Selasa, 20 Oktober 2009

MAKNA KETULUSAN CINTA

Cinta bisa datang tanpa diduga. Cinta tak pernah salah, meski perasaan terkadang muncul pada orang yang tidak tepat. Cinta dapat membuat hidup manusia damai bahagia, tapi dalam sekejap bisa berubah menjadi malapetaka.

Mendefinisikan cinta tidak akan ada habisnya. Setiap orang merasakan kadar dan bentuk cinta yang tak sama. Cinta adalah gabungan banyak unsur yang kasat mata, bahkan sulit dideteksi dengan perasaan. Bagaimanapun juga, manusia memiliki keterbatasan melukiskan segala sesuatu yang dirasakan hati. Meski demikian, bukan berarti cinta tak dapat dikenali secara keseluruhan. Cinta yang hidup sejak manusia pertama hingga saat ini masih bisa dikenali dari tanda-tanda dan dampaknya.

Memaknai cinta tidak hanya mengikuti hawa nafsu dan keinginan semata tanpa mempertimbangkan akibatnya. Mencintai tdak selalu memberikan kebaikan, begitu juga dicintai tidak selalu menimbulkan kebahagiaan. Diperlukan keseimbangan antara mencinta dan dicintai. Tidak salah jika kemudian banyak yang mengatakan bahwa mencintai adalah satu keputusan. Sebuah keputusan yang harus dipertimbangkan dengan penuh kesadaran.

CINTA YANG SESUNGGUHNYA

Mencintai adalah satu pekerjaan berat karena prosesnya berkaitan dengan hidup seseorang yang dicintai. Dalam cinta, kepercayaan adalah taruhannya. Kepercayaan diselewengkan, cinta pun melayang. Sekali cinta ternoda, ia tak akan kembali seperti semula. Ibarat melemparkan batu kedalam kolam yang tenang. Meski riaknya akan menghilang, tapi batu sudah terlanjur menetap didalamnya.

Jalan hidup manusia memang tidak selalu sama. Begitu juga dengan mencintai yang tidak selalu kondusif dalam segala situasi. Membuktikan ketulusan cinta di tengah situasi sulit akan makin memperkokoh cinta dan memberi kebahagiaan terhadap yang dicintainya. Tidak ada cinta tulus tanpa teruji konsistensi dan integritasnya. Cinta yang harus ditunaikan dalam waktu lama dengan segala situasi baik di kala senang atau dalam kondisi paling sulit sekalipun.

Para pakar mencoba menjelaskan bahwa cinta antar manusia adlaah hubungan antara dua "aku" yang melebur jadi keakuan cinta (kekasih). Ketika cinta sudah mencapai puncaknya, maka manusia mengalami pertukaran pribadi. Yaitu ketika manusia memberi yang dicintainya, maka seolah-olah memberi kepada dirinya sendiri.

Mencintai lawan jenis memang tidak dilarang dalam agama, karena cinta adalah fitrah. Cinta adalah naluri yang sudah tertanam dalam diri manusia sejak lahir ke muka bumi dan menjadi kebutuhan. Tuhan tidak melarang manusia mencintai dan dicintai. Dengan tuntunan agama, Tuhan mengarahkan cinta menjadi sebuah kebaikan kepada manusia. Karena, cinta berlandaskan ketakwaan kepada Allah adalah sebaik-baiknya cinta. Jika kita terluka oleh cinta, kembalilah kepada cinta terhadap Tuhan karena Dia yang membolak-balikkan hati dan sebaik-baiknya tempat kembali.

Cinta yang tulus dan suci serta hanya berlandaskan ketakwaan terhadap Sang Maha Pencipta tidak akan menimbulkan malapetaka baik kepada dirinya maupun orang lain. Bahkan ketika cinta itu tidak diperolehnya, cinta yang spotif dan tulus adalah memberi kepada yang dicintai untuk tumbuh dan berkembang dalam kebahagiaan. Sekalipun akhirnya dia tidak menjadi milik anda.

(Dikutip dari Majalah Anggun)