Minggu, 31 Mei 2009

Cinta dan Kota


cinta yang berkata itu ada pada kita yang berkelana dan kita yang tergoda.
cinta itu bukanlah undangan yang terkirimkan pada ruangan di lantai dua, tapi cinta itu enggan untuk tidak menjamu kita yang mencari arti kota ini.

kita bersama kota ini adalah spontanitas untuk menjamah situs-situs kekhasannya bersama perjalanan yang terencana.
kota ini adalah cinta, dan undangan itu memilih kita untuk mencari tahu apakah tangan yang kugenggam ini adalah kota ini?
kota ini adalah perjalanan, dan waktu-waktu itu mencairkan kita agar melihat apakah suara tawa dan pandangan ini adalah cinta?
kita yang terlupakan, kita yang banyak kehilangan....disini kita menumpahkan cinta itu bersama.
kita menikmati kota ini, bersama kita menikmati cinta yang melengkapi tubuh ini.

Untuk Tuanku


ini malam, dan aku terbangun dlm sibuknya pikiran ini mencari keindahan hatinya segera pulang pada tuannya.
ini adalah pekatnya, yang membangunkan kedua mataku mencari bagian kecil dari satu rasa yang telah mengikatku pada arti hadirnya.
tuan yang kupuja...ijinkan hatiku yang kotor ini diseka dalam embun itu dan aku bermandikan kekuatan dari mentari pagi ini.

tuan yang kupuja...apakah kau akan datang dengan wajah yang selalu terlukis oleh kedua bola mata hitamku ini dan suara yang sarat akan gairah ditelingaku ini?
apakah benar tuanku???
ataukah mungkin tuan yang kupuja....engkau takkan menampakkannya lagi - yang membuatku jatuh hati dan selalu menunggu hasratnya kembali datang padaku yang kotor.

tuanku..ini adalah kertas putih milikku, yang dari hari ke hari aku puisikan hasrat hatiku menuju tidurku. puisi-puisi yang hanya aku dan langitku menyimpannya hingga akhirnya kau datang.
kini, puisi-puisi itu bukan hanya aku dan langitku tapi ada kau tuanku.

tuanku...bacalah lembar ke-5 puisiku.
"...entah berapa langit yang akan kulewati jika aku menemuimu kelak, entah berapa langkah yang akan kupijakkan jika menuju istanamu esok, entah berapa banyak kesusahan dan penderitaan yang akan aku rangkuh jika akan memelukmu pada akhirnya. tapi tuanku...aku akan bersama kesederhanaanku dan aku bukanlah kesempurnaan yang utuh.tuanku adalah bijak, tuanku bagian dari kekuranganku."

Senin, 04 Mei 2009

Tentang ANAK


Kutipan dari buku Kahlil Gibran " Selembut Cinta SANG NABI", mengenai seorang ibu yang bertanya tentang anak-anak:
...............Anakmu bukanlah anakmu. Mereka putra-putri kehidupan yang rindu pada diri sendiri. Lewat engkau mereka lahir, namun bukan dari engkau. Mereka ada padamu, tapi bukan milikmu. Berikan pada mereka cinta, tapi jangan pikiranmu, sebab mereka punya pikiran sendiri. Berikan mereka rumah bagi tubuhnya, tapi bukan jiwanya. Sebab jiwa mereka tinggal di rumah masa depan, yang tak dapat kau kunjungi meski dalam mimpi. Engkau boleh menyerupai mereka, namun jangan paksa mereka menyerupaimu. Sebab kehidupan tidak berjalan kebelakang, tidak juga tenggelam di masa silam.............

Orang tua adalah ayah dan ibu. Cinta kasih mereka menyatu dan penyatuan itu mendatangkan makhluk kecil yang tak berdaya lewat rahim seorang ibu. Kau melindunginya dengan cinta dan kasih sayang, memberikan kehidupan dan tempat tinggal yang layak, mengajarinya nilai-nilai sosial dan berteman.

Makhluk kecil tak berdaya itu tumbuh semakin besar menjadi seorang anak yang mandiri yang ingin menunjukkan eksistensinya untuk masa depannya. Ini adalah proses menuju kedewasaannya, yang mungkin akan membuatnya tercengang. Kemandirian akan menuntunnya menemukan pilihan hidupnya sendiri. Dia tahu apa yang dibutuhkannya, yang membuatnya bahagia dan pasangan hidupnya kelak.

Bersebrangan dengan perkembangan anaknya, sebagian besar orang tua yang terlalu konvesional akan bertindak dengan mengikat anaknya. Mereka akan menariknya dan membuatnya menjadi sosok cerminan dari harapan mereka. Alasan-alasan yang tak masuk akal dipertahankan. Mereka menentukan arahnya, pilihannya dan aturannya untuk anaknya. Mungkin bagi anak yang pasrah, yang tak punya pilihan, akan mengikuti orang tuanya dan mereka ini biasanya dikatakan anak yang berbakti. Sedangkan bagi anak yang tegas dan keras, yang punya prinsip, akan menolak orang tuanya dan mereka ini dikatakan anak yang durhaka.

Apakah penilaian ini bisa sepenuhnya dikatakan benar?
Jawabannya....RELATIF.

Seorang anak adalah manusia yang juga memiliki kebebasan. Kebebasan akan pikiran dan perasaannya sendiri, dan keinginan untuk impian masa depannya. Bahkan jika pilihan itu adalah kegagalan nantinya, itu adalah resikonya. Karena tak ada satu pun di kehidupan ini yang sempurna.

Mereka lupa bahwa anak bukanlah milik mereka dan anak tidak akan bisa menyerupai mereka.

CINTA


Kutipan dari buku Kahlil Gibran " Selembut Cinta SANG NABI", mengenai arti cinta:
.........Apabila cinta memanggilmu, ikutilah, meski jalannya terjal berliku. Namun, jika dalam ketakutanmu kau hanya mencari kedamaian dan kesenangan cinta, maka lebih baik engkau menutupi tubuh telanjangmu. Lalu menyingkir dari papan penempaan cinta, memasuki dunia tanpa musim, tempat engkau dapat tertawa, namun tak sepenuhnya, dan menangis, namun tak sehabis air mata. Jangan mengira bahwa engkau dapat mengarahkan jalannya cinta, karena cinta, apabila telah memilitmu, dia akan mengarahkan jalannya.........

CINTA...satu kata yang begitu sering diucapkan dan dikenal oleh banyak umat manusia di bumi ini hingga satu kata ini memiliki tempat yang begitu spesial di setiap hati manusia yang berakal. Cinta adalah makna kata yang universal, yang berarti kasih, dan komposisi maknanya bisa beragam bergantung pada subjeknya.

Arti cinta menurut kahlil Gibran dalam bukunya lebih mengacu kepada insan manusia yang mencari cinta. Menurut pemahamanku, datangnya cinta tak ada seorang pun yang tahu. Ada yang cepat tanpa orang itu harus bersusah payah mencarinya, dan ada pula yang harus menunggu bertahun-tahun untuk merasakan cinta. Ketika cinta itu datang menyentuh hati manusia, biarkan keindahannya merasukimu dan kepedihan menemaninya. Itu wajar. Karena perjalanan cinta selalu pasang surut bersama kekuatan emosi itu sendiri.

Seperti kutipan dari buku Kahlil Gibran " Selembut Cinta SANG NABI", mengenai arti suka dan duka:
............Suka adalah duka yang terbuka dan sumber yang sama yang melahirkan tawa, sering juga mengalirkan air mata. Suka dan duka takkan terpisahkan, karena datangnya bersamaan......

Maka di dalam cinta ada suka dan duka.

Namun jika kau menerima cinta hanya untuk kenyamanan dan kesenangan saja, maka kau menentang alam. Keseimbangan dalam makna cinta menjadi tak berarti. Katakan kalau kau takut!
Kau lebih memilih kehidupan yang tak bermusim, dimana ingin tertawa tapi tak lepas, dan ingin menangis tapi air mata tertahan. Seperti orang gila!